Tulisan

pelajaran dari aceh yang baru
5 tahun telah berlalu, gempa 9,1 SR & disusul oleh hempasan tsunami yang telah memporak – porandakan bumi serambi makkah, yang telah menghancurleburkan rutinitas sosial ekonomi masyarakat aceh.kurang lebih 220.000 jiwa melayang dan menghilang, ribuan orang kehilangan sanak keluarga. 26 desember 2004 masa dimana bumi aceh diguncang selama kurang dari 5 menit, tapi begitu besar effek yang dirasakan kehancuran lahan pertanian, hingga bangunan yang puluhan tahun dihuni. kenapa bencana terbesar di Indonesia itu bisa terjadi, coba kita sedikit melirik Syair yang dbuat oleh Ebit G. Ade ” Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ” mungkin begitulah kenapa Tuhan menurunkan bencana kepada kita. itu adalah Ayat Allah yang langsung dapat kita lihat, ayat yang mengingatkan kepada kita dan bangsa kita agar selalu ingat kepada Allah, dan dari situ begitu banyak pelajaran berharga yang dapat kita pelajari, mulai dari rasa syukur kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menginjakkan kaki kita di bumi suburnya, berlindung dibawah langit luasnya, melihat indahnya pemandangan alam, dan yang pasti syukur karena SIM kita masih diperpanjang, SIM alias ( Surat Izin Menghirup udara ). pelajaran dimana kita harus selalu ingat, selalu syukur kepada Allah karena memang mati datangnya mendadak, musibah datangnya tidak diduga – duga.
Pelajaran yang kedua adalah semangat perjuangan untuk terus “survive”. Trauma memang belum bisa terhapus tapi kehidupan harus tetap berlanjut, semangat itulah yang menjadi modal awal modal berharga bagi warga aceh untuk membuka lembar baru dengan jiwa psikologis yang baru pula. tidak heran jika aceh dengan kurun waktu 5 tahun bisa menjadi pusat perhatian internasional. Meski dengan memory yang pilu aceh bertumbuh kembang dengan semangat yang luar biasa hebatnya. semangat itulah yang sudah seharusnya kita jadikan referensi, bukan saatnya kita terus merasa enjoy, terus merasa nyaman di “zona rileks” kita tidak akan tumbuh berkembang tidak akan mengalami ” Continous Improvment” jika kita hanya duduk tenang dengan kenyamanan yang kita rasakan.

Pelajaran selanjutnya adalah kehidupan sosial yang mereka rasakan. setelah sunami datang kehidupan sosial menjadi semakin terbuka dan akhirnya sama – sama membawa aceh muncul dengan wajah baru nan indah, apa iya kita harus menunggu bencana untuk mewujudkan kehidupan yang beriringan kehidupan yang indah yang dibalut oleh suatu perbedaan.
begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil sebagai hikmah, akan tetapi ada sesuatu yang kita lupakan yang tidak teramati oleh pandangan kita, yaitu masih banyak saudara- saudara kita diaceh selama 5 tahun pasca tsunami masih tinggal di pemukiman – pemukiman kumuh, di barak – barak yang tak layak huni. patutkah kita berdiam diri, mungkin kita belum mampu untuk terjun langsung membantu saudara – saudara kita, tapi minimal kita berdo’a untuk mereka semoga Allah memberikan petunjuknya kepada Pemerintah agar bisa lebih adil dalam memberikan kesejahteraan kepada masyarakat aceh. mari kita do’akan saudara2 kita agar tetap diberi ketabahan dalam menjalankan kehidupannya.
berdo’a mulai.,.,.,.,.,.,.

Berdo’a selesai.,.,.,.
semoga do’a kita diterima Oleh Allah SWT. Amiiin…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s